irreplacable; follow taestal about. credits home


Thursday, August 15, 2013
8:59 PM

Jinki menguap dengan sangat lebar sambil menyingkirkan selimut dari setengah badannya—hari sudah pagi dan ia harus berangkat ke sekolah. Sambil sedikit terkantuk-kantuk ia buka pintu kamarnya dan udara dingin menyerbu kulitnya seakan-akan ingin menembus ke tulang.
Sepi, dan Jinki sudah terbiasa.

Masih terkantuk-kantuk ia membuka lemari putih kecil yang tergantung di dinding dingin kamar mandinya—sebuah odol baru yang entah bagaimana selalu akan ada ketika yang lama sudah habis. Mungkin ibunya, atau mungkin juga ayahnya. Perbandingannya seimbang dan Jinki tidak mau berlama-lama memikirkan hal itu. Ia lekas mandi air hangat dan menyiapkan sendiri sarapannya. Mungkin roti panggang atau sereal, atau mungkin juga hanya segelas susu dingin yang, sama seperti odol, akan selalu baru ketika yang lama sudah habis.
“Aku berangkat,” ucapnya seperti hari-hari biasa seakan ada seseorang yang akan menjawabnya. Mungkin ibu dan ayahnya sudah berangkat bekerja sejak beberapa jam yang lalu ketika udara pagi masih dingin-dinginnya, atau mungkin mereka tidak pulang semalaman dan pergi ke luar kota. Jinki sudah terbiasa pada sepi dan kesendirian, sehingga ia tak terlalu mempermasalahkannya.  Toh di ujung gang ada Nenek Park yang setiap hari berbaik hati menyapanya dan terkadang membuatkannya bekal, sehingga ia sedikitnya terhibur dan merasa tidak terlalu sendirian.
Jalanan masih lengang—masih ada kurang lebih satu jam lagi sebelum sekolah mulai. Lelaki dengan rambut yang menutupi kedua daun telinganya itu berjalan santai tanpa ekspresi—matanya tertuju hanya ke depan, langkah kaki yang panjang dan cepat, dan tidak menghiraukan apapun kecuali dirinya sendiri. Ia selalu sendiri, merasa sendiri dan hampir hidup sendiri (ia bahkan sudah beberapa minggu tidak melihat wajah ayah dan ibunya), sehingga ia sudah terbiasa hidup tanpa bersosialisasi dengan yang lain.
Kelas 3-4 adalah ruang-ruang sunyi Jinki lainnya. Ia selalu datang paling awal dan duduk di deretan paling belakang dekat jendela, karena Jinki tau dia lebih suka memandang ke arah langit atau tertidur pulas daripada mendengarkan guru dan mengerjakan beberapa soal. Jelas Jinki bukan anak yang pintar, tapi ia juga bukanlah siswa yang bodoh—dua pelajaran bernilai A dan yang lainnya C sudah cukup bagi Jinki. Dan jelas, dia bukan siswa ‘kelas 1’ yang ditakuti sekaligus disegani lainnya. Jinki hanya Jinki, ia Jinki yang tidak pernah dihiraukan dan tak mau menghiraukan. Baginya mengasingkan diri di sekolah lebih baik ketimbang pulang dengan lebam berwarna biru di sekujur tubuh oleh antek-antek yang menyebut dirinya ‘kelas 1’—siswa yang bisa saja berbuat seenaknya kepada si ‘kelas 2’ dan rendahan ‘kelas 3’, tak peduli laki-laki atau perempuan. Itu jelas lebih baik untuk Jinki, dan Jinki tau itu.
Kecuali salah satu siswi yang bisa saja dikategorikan sebagai siswa ‘kelas 1’, Kim Gwiboon. Gwiboon adalah salah satu siswi cantik—tidak seperti pemain drama yang ada di TV, tetapi ia cukup cantik untuk ukuran siswi di sekolahnya dan jelas, seperti cerita lama, banyak laki-laki yang naksir padanya. Meskipun ia cantik, Gwiboon bukan gadis belagu ‘kelas 1’—ia juga bukan si ‘kelas 2’ walau sering terlihat bersama kelas dua-kelas dua yang lain, dan bukan juga rendahan ‘kelas 3’ walaupun ia tak malu menyapa yang-ternamai rendahan-rendahan di kelas tersebut. Baginya semua sama, semua manusia, dan manusia berhak mendapatkan perlakuan yang sama yang mana ironisnya berlaku juga untuk semua siswa yang naksir berat kepadanya: ditolak. Ya, ditolak.
Kelas menjadi tidak lagi begitu sunyi bagi Jinki saat tiba-tiba sepulang sekolah Gwiboon mengajaknya berjalan-jalan untuk membeli buku dan mencari kudapan sore di pinggir jalan. Seperti selayaknya laki-laki normal lainnya, Jinki tidak menolak tawaran tersebut (meskipun ia sedikit heran), apalagi Gwiboon adalah perempuan yang cantik—siapa yang mau menolak ajakannya meski itu gila sekalipun?
Dan gila bagi Jinki adalah ajakan Gwiboon tersebut—ia selalu ingat tanggalnya; 13 September—yang tiba-tiba menjadi kebiasaan (tanpa diundang) sehari-hari lelaki berambut panjang tersebut. Bukan hanya menemani Gwiboon, tapi juga membalas pesan pendeknya, menjawab teleponnya, dan tidak hanya sekali ia mengajak Gwiboon pergi ke luar untuk sekedar makan junk food atau menonton film di bioskop.
“Aku menyukaimu,” ucap Gwiboon suatu hari ketika mereka makan siang di suatu restoran fast food. “Aku tidak peduli kau menyukaiku atau tidak, aku hanya ingin kau tau: aku menyukaimu.”
Dan Jinki hanya membalas dengan anggukan karena dari awal dia memang sudah tau hal itu.
Seantero sekolah menjadi heboh karena entah bagaimana dan dari siapa cerita tentang Gwiboon yang menyukai Jinki tersebar. Beberapa siswa yang sudah lama naksir padanya berubah seperti anjing malang yang dibuang pemiliknya—mereka patah hati. Mereka menjadi lesu dan tidak bersemangat sepanjang hari. Ada yang dikabarkan menangis diam-diam di kamar mandi, dan bahkan ijin beberapa hari dari sekolah untuk mengobati luka hati. Kharisma Gwiboon sudah terlalu lama tertanam dalam hati mereka sampai ke ulu, otak—pikiran dan khayalan—sehingga ketika ia tiba-tiba tercabut (menurut mereka, dengan paksa), mereka mendadak terserang kesedihan berkepanjangan atau gila sebentar. Cinta tak hanya bikin orang buta, tapi juga bikin orang menjadi gila.
Cerita cinta itu terhenti ketika Jinki pulang dengan luka lebam yang cukup parah akibat dikeroyok antek-antek ‘kelas 1’ yang kabarnya mewakili salah satu penderita sindrom patah hati labil. Ia ternyata memendam perasaan dengki, “Bagaimana mungkin aku dikalahkan oleh laki-laki tak jelas dengan rambut berantakan dan hanya dua nilai A di rapotnya?”. Tapi kukatakan sekali lagi, cinta memang buta, ia bikin orang jadi gila. Dan malamnya sambil menangis terisak-isak Gwiboon datang ke rumah Jinki untuk meminta maaf dan berjanji untuk tidak mendekatinya lagi. Dan detik itu, Jinki mati rasa. Ia kemudian tau ia akan terserang sakit jiwa karena patah cinta, sama seperti yang lainnya.
Dan saat ini, 10 tahun kemudian, seorang wanita berambut coklat terduduk dengan sedikit gemetar menahan getir setelah tak sengaja menoleh ke arah lelaki di sebelahnya. Wanita ini tau bahwa terkadang kebetulan dan takdir berbeda tipis dan ternyata sama-sama terasa seperti tahi sekarang—lelaki di sebelahnya ini Lee Jinki, lelaki yang pernah ia cintai tanpa alasan saat SMA dulu. Yang tidak pernah ia sedetikpun lupakan—ia membekas dan susah untuk sembuh. Kim Gwiboon, nama wanita ini, menahan tangis karena ia tau Jinki tak akan menoleh kepadanya walaupun jarak mereka hanya sekitar 30 senti—Jinki selalu melihat lurus ke depan. Ia tak pernah menoleh dalam hidupnya karena ia sendirian, merasa sendirian dan hidup dalam kesendirian. Dan, ketika kereta terakhir pertama datang, lelaki yang telah memangkas rambutnya rapi itu berdiri dan berjalan setelah menunggu beberapa orang tak sabaran berdesakan memasuki kereta bawah tanah tersebut. Ia melihat ke arah jam dan berjalan dengan cara yang sama seperti saat Gwiboon mengenalnya dulu—langkah yang panjang dan cepat. Dan saat Jinki masuk kedalam kereta, di saat itulah air matanya jatuh. Ia tau ia terserang rindu yang amat sangat, tapi tak mampu berbuat apapun.
Jinki menghela nafasnya saat ia tau ia akan berdiri lagi, berada di dekat pintu kereta, dan hal itu adalah waktu paling membosankan saat hari kerja. Ia berbalik dan melihat ke arah kaca tembus pandang kereta dan sedikit membelalakkan matanya—ia merasa mengenal wanita yang duduk di sampingnya tadi—ia mirip wanita yang dulu pernah ia cintai tapi memutuskan untuk pergi tepat setelah Jinki menyadari ia memang benar mencintai wanita itu. Terlambat seperti sebelumnya, pintu kereta sudah sepenuhnya tertutup dan mulai berjalan. Dan saat itulah Jinki berharap kebetulan dan takdir membawa kereta tersebut berhenti sejenak, sekiranya 5-10 menit saja.

Labels: , ,

Warnings.
No harsh comments.
No plagiarism.
Don't bash. If you dislike taestal then just go. This place is not for you.
Best view in Google Chrome.
Be happy!(◕‿◕✿)

"good night ver.2" by YUEKAIRE